Pagi hari menjelang sahur pada 23 Ramadhan tahun ini rasanya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Aku merasakan ramainya kota pelajar yang menjadi incaran bagi pelajar, mahasiswa dan santri dari berbagai penjuru negeri, iya Yogyakarta namanya. Kota istimewa yang menjadi identitas keterpelajaran di negeri ini. Banyak sekali pesantren dan kampus favorit yang menjadi tempat belajar bagi kalangan menengah keatas.

Namaku Reyhan, kebanyak orang yang mengenalku lebih sering memanggil rey. Beberapa bulan yang lalu aku datang ke kota istimewa ini dengan tujuan bekerja, memenuhi kebutuhan kehidupan pribadi  dan keluarga. Sebuah panggilan dan kewajiban diusiaku yang menginjakkan 24 tahun ini menjadi tulang punggung keluarga. Adikku lah yang menjadi motivasi utama ku, aku tak ingin dia menyesal seperti aku yang tak berkesempatan mengenyam pendidikan formal di usia yang masih emas ini. Dimana potensi dan bakat harusnya dapat digali sedalam-dalamnya melalui bangku pendidikan.  

Bahkan untuk ikut pembelajaran non formal pun aku sangat kesulitan, pesantren contohnya.

Tak jarang hari-hari ku penuh dengan perandaian, jika aku ini jika aku itu. Ah, tapi semua mustahil bagi ku yang bukan siapa-siapa ini. Bersama dengan segudang penyesalan dan kekecewaan ini aku masih percaya akan selalu ada selangit doa yang membersamaiku. Iya doa Abah dan Umi, suatu hal yang akan selalu aku tempatkan sebagai sebuah keajaiban dalam hidupku.